| Mencabut Imej Sulit |
|
|
|
| Artikel - Pendidikan | |||
|
There are no translations available. Mencabut ’Imej Sulit’ yang Sudah Mengakar Agustin Sulistyawati Ketika sebuah konsep sebuah pelajaran diberikan oleh seorang guru kepada siswanya ataupun siswa mendapatkannya sendiri melalui bacaan atau media lainnya, maka saat itu sedang terjadi transformasi ilmu. Melalui transformasi ilmu, lahirlah respon siswa terhadap ilmu yang didapatkannya. Respon siswa yang beragam dapat menjadi tolak ukur terserap atau tidaknya konsep ilmu yang guru berikan atau siswa dapatkan. Siswa yang kita ajar tentu memiliki respon yang berbeda terhadap sesuatu. Begitu pula dengan suatu ilmu atau materi pelajaran yang kita berikan. Selain kita melihat respon siswa secara langsung dalam proses belajar mengajar. Sesekali tidak ada salahnya jika kita bertanya pada mereka baik langsung maupun tidak langsung (angket), pelajaran apa yang mereka suka dan tidak suka. Tanpa maksud mencari-cari kekurangan rekan kita yang lain tentunya. Kita dapat mengambil sisi negatif sebagai pembelajaran (instropeksi diri) dan kita dapat mengambil sisi positif sebagai motivasi untuk dapat memberikan pelayanan belajar yang baik kepada siswa. Kita dapat meminta alasan mereka apa yang membuat mereka suka atau tidak suka terhadap suatu pelajaran. Kita dengarkan dan pahami isi hati mereka. Kita juga bisa masuk dalam dunia mereka (siswa SD khususnya) namun bukan berarti kita akan menuruti semua keinginan mereka begitu saja. Apalagi jika keinginan mereka itu bertujuan menyesatkan. Seperti pernyataan siswa berikut ini: “Saya tidak suka pelajaran matematika karena selalu ada PR. “Saya tidak suka pelajaran bahasa Indonesia karena nuliisss terus, membosankan!” Jika itu alasan mereka, apakah kita akan mengurangi porsi memberi PR (pelajaran matematika) dan mengurangi porsi kegiatan menulis (pelajaran bahasa Indonesia). Sebagai guru yang bijak tentu kita tidak akan melakukannya dan kita mempunyai pertimbangan khusus dalam pembelajaran. Cobalah kita beri penjelasan kepada mereka apa manfaatnya. Dengan PR matematika, ia semakin mahir mengerjakan soal matematika. Dengan menulis, maka ia akan terus mengasah kemampuan berbahasanya. Suatu ketika guru pelajaran X bertanya kepada salah seorang siswa yang nilainya selalu dibawah KKM. Mengapa nilainya siswa tersebut selalu di bawah KKM. Siswa itu menjawab bahwa pelajaran X itu sulit. Tentu jika kita adalah guru pelajaran X, kita ingin tahu, apa yang membuat siswa merasa kesulitan? Kita akan berusaha memecahkan kesulitannya. Namun, setelah kita berusaha dengan berbagai macam jurus jitu agar si anak tidak merasa kesulitan ternyata si anak masih mengatakan bahwa pelajaran X memang sulit. Anggapan siswa bahwa pelajaran tersebut sulit sebenarnya dari berbagai faktor, baik faktor dari dirinya sendiri ataupun faktor dari orang lain. Faktor dari dirinya sendiri yakni anggapan sulit itu tumbuh dengan sendirinya karena sudah merasa pesimis terhadap pelajaran tersebut. Faktor dari orang lain yaitu anggapan itu muncul karena pengaruh dari orang-orang di sekitarnya baik guru, teman, orang tuanya. Siswa SD pada umumnya, tumbuh rasa suka terhadap pelajaran tertentu awalnya merasa tertarik. Tertarik dalam hal ini dari beragam alasan. Tertarik karena merasa bisa, tertarik karena gurunya, tertarik karena pelajarannya menyenangkan, tertarik karena merasa lebih menantang dan sebagainya. Begitu pula sebaliknya jika siswa merasa tidak tertarik. Tidak tertarik karena merasa tidak bisa, tidak suka gurunya, pelajaran membosankan, tidak ada tantangannya. Dari merasa tidak tertarik, maka tumbuh rasa tidak suka, pesimis, dan menjadi kesulitan. Sulit memahami konsep dan mengerjakan soal /latihan. Perasaan sulit yang terus menerus, dan tidak segera dipatahkan, muncullah rasa gagal terhadap pelajaran. Apabila itu hal itu dibiarkan maka akan memberikan imej sulit yang akan terus melekat hingga tahun demi tahun dirinya mengikuti pelajaran tersebut. Apalagi jika hal tersebut sudah lama (sejak kecil) ia rasakan, hingga mendapat dukungan dari pernyataan dan sikap orang tua, teman, atau pun guru bahwa pelajaran itu memang memang sulit. Belum lagi jika yang kita hadapi siswa adalah siswa yang cenderung loyo dalam hal ini kurang memiliki jiwa juang dan semangat yang membara dalam hal belajar. Konsep ilmu suatu pelajaran ibarat tumbuhan padi yang kita tanam di sawah. Sementara itu, di sela-sela tumbuhan padi tentu ada rumput liar sebagai pengganggu tumbuhan padi. Rumput-rumput liar yang siap mengganggu dari daun hingga akarnya yang akan menghalangi kesuburan padi. Seperti itu pulalah imej sulit pada siswa. Kesan sulit yang itu akan terus menghalangi langkah-langkah siswa kita untuk terus maju dan belajar. Seperti rumput pulalah bahwa imej sulit itu harus kita singkirkan, dicabut hingga ke akar-akarnya. Hal itu tidak hanya kita lakukan satu kali namun harus setiap kali. Seperti pupuk tanaman yang rutin kita berikan setiap bulannya. Jika tidak terus menerus kita lakukan, akan tumbuh imej sulit yang baru. Langkah menyingkirkan imej sulit siswa dapat kita lakukan dalam kegiatan proses belajar mengajar sebagai berikut:
Terutama yang beruhubungan dengan motivasi siswa. Antara sekolah dan orang tua mempunyai visi dan misi yang sejalan dalam hal memotivasi siswa. Langkah ini diharapkan mampu mencabut gulma belajar, mencabut hingga ke akar-akarnya, menyingkirkan imej sulit dalam belajar siswa. Memang usaha yang kita lakukan tidak dapat langsung menghasilkan perubahan yang signifikan pada siswa, namun setidaknya kita mampu mengubah pikiran buruk dan meningkatkan kepercayaan diri mereka. Semoga kita dapat menjadi guru yang mampu mengubah imej sulit menjadi imej gampang atau mudah. Seperti seorang petani yang tekun mencabut rumput-rumput liar yang mengelilingi batang padinya.
(Juara 2 Lomba Penulisan Inovasi Pembelajaran Kategori Guru SD dalam Rangka Hari Guru yang diselenggarakan Yayasan Pupuk kaltim November 2009)
|





