Home NEWS & ARTICLES ARTICLES Gurupun Dapat Menangis
Gurupun Dapat Menangis PDF Print E-mail
Artikel - Pendidikan
There are no translations available.

Gurupun  Dapat Menangis

 

Kembali mengingat kenangan yang telah berlalu dalam kejadian beberapa waktu yang lalu. Kenangan yang kembali teringat dalam benak seorang cewek yang malam itu tengah melihat lembaran foto dalam layar komputernya. Tak jarang wajahnya menampakkan ulasan senyum. Sesekali ia menyeka air matanya yang jatuh ke pipinya. Tak tahu apa yang tengah ia pikirkan dalam benaknya saat dia melihat lembaran forto-foto tadi. Diaz, cewek itu tiba-tiba berbicara pada angin hampa di kamarnya, ".. hhh.. nggak kerasa aku udah kelas 9, ya.. Padahal baru kemaren rasanya aku kelas 7, " Diaz kembali tersenyum. la kembali melanjutkan membuka file demi file foto-foto tadi. Membuatnya semakin tersenyum. Tak lama, ia beralih menuju ikon mozila firefox. Membuka e-mailnya. Namun, raut wajahnya berubah semu. "Hhhh.." Diaz menghembuskan nafasnya tak bersemangat, "Tak ada balasan sampai sekarang.." Akhirnya, Diaz men-sign-out e-mailnya, dan akhirnya mematikan komputernya.

Diaz merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. la sudah menyalakan lampu tidurnya. Diaz memejamkan matanya. Tak lama matanya yang'tajam' itu terbuka dan melirik ke arah jam dinding di kamarnya "Udah jam 11, tumben banget belum ngantuk.." Cewek itu akhirnya mencoba menutup matanya dan berusaha untuk tidur. . Gagal. la membuka matanya. Menatap langit-langit kamarnya. Sebenarnya tak ada objek yang menjadi fokus Diaz. Tapi, Diaz hanya diam dan membiarkan matanya tetap menatap. Pandangan Diaz diam tak berpindah. Namun, malam itu pikirannya 'bekerja' layaknya sebuah player yang tengah memutar kepingan film pendek. Mata Diaz terbuka dan tertuju pada satu objek. Namun, pandangannya terlihat begitu jauh. Sejauh kenangan lama itu terjadi. Namun, sepertinya ingatan itu tak meresahkan Diaz. la justru membiarkan kenangan lama itu berjalan, berputar, mengalir, menceritakan kembali sebuah drama klimaks yang ia lalui dengan semua tokoh yang berperan. Drama tentang dirinya, kawannya, gurunya, yang hanya menyisakan sebuah memori ingatan.

***  

Pagi yang cerah itu, biarpun mentari pagi bersinar dengan cerah, namun udara pagi itu begitu sejuk. Sama halnya seperti perasaan anak-anak SMP YPK yang riang gembira. Mereka menginjakkan kakinya kembali ke sekolah setelah liburan semester 1. Itulah awal dari sebuah hari. Hari yang mengawali sebuah pertemuan kembali. Awal dari semester 1. Tampak semua wajah anak-anak begitu cerah. Senang rasanya bertemu kembali dengan teman-teman, setelah liburan semester. Semuanya tampak dari wajah anak-anak 8G. Semua bercanda tawa. Melepas kangen. Dan mulai menceritakan pengalaman masing-masing selama liburan.  

Proses Belajar mengajarpun dimulai. Semuanya berlangsung seru dan heboh dalam kelas 8G. Kegilaan clan kekompakan yang mereka miliki tak pernah membuat kelas itu hening. Hingga tiba di saat pelajaran Bahasa Inggris, semua siswa 8G tercengang melihat sosok wanita yang masuk ke dalam kelas mereka. Diaz dan teman-temannya hanya bisa diam. Sambil berbisik ke teman bangku sebelahnya, "Siapa, tuh? Miss Desy mana?" Tanya Diaz. Teman yang ditanyai hanya dapat mengangkat bahu. Tak lama, wanita itu menjawab semua pertanyaan yang mungkin saja 'nyangkut' di telinganya, ketika anak-anak berbisik. "Hay, class! Good morning!" ucapnya sambil melemparkan senyum. "Today, I will be substitute your English teacher who teach you all before. Okay, let me introduce my self. My.." belum sang guru baru mengenalkan dirinya pada anak-anak 8G, seorang anak laki-laki bertanya lantang "Apa? Miss Desy mana?" ucap anak itu. "Saya tidak tahu, ke mana perginya guru lama kalian." jawab wanita itu masih dengan memasang senyumnya. Anak-anak kelas itu hanya membiarkan sang guru berceloteh memperkenalkan dirinya, tanpa ada respon . "My name is Rina. I am 29 years old. I am ..." guru baru itu memperkenalkan dirinya di depan kelas dan hanya di anggap angin lalu saja bagi anak-anak 8G yang tak peduli. Di sisi yang sama Diaz membalikkan badannya, menghadap temannya yang duduk di belakang, "Miss Desy ke mana, sih? Perasaan Miss Desy nggak pernah ngomong ke kita kalo mau pindah tempat ngajar. Pas kita class meeting juga Miss Desy masih ada, kan ?" Diaz bertanya heran. Dan seusai guru baru itu memperkenalkan diri, ia segera saja memberikan tugas tanpa menjelaskannya terlebih dahulu. "Apa Bu? Ngerjain semua ini? Nggak ada penjelasan pelajaran dulu?" tanya Rika, yang tiba-­tiba terbelalak ketika melihat betapa banyaknya tugas yang diberikan. Guru baru itu hanya tersenyum .”Tu guru maunya apa, sih? Baru juga pertama kali ngajar kita, asal nyablak ngasi tugas sebanyak ini? He? Apa ini?" seorang anak yang lain berkomentar sambil membuka lembaran halaman tugas itu. Semua anak 8G yang terkenal 'kurang ajar' itu, hanya bisa mengomel. Namun, tak sedikit juga yang merasa kesal dengan cara guru baru tersebut mengajar mereka. Akhirnya, mereka tak mengerjakan tugas yang ada hingga bel istirahat berbunyi.  

Itulah awal sebuah hari. Awal sebuah pertemuan. Pertemuan dengan teman-teman. Bertemu dengan guru-guru. Namun juga, awal dari sebuah perpisahan dengan guru tersayang. OSepulang sekolah hari itu juga, Diaz segera mengirim e-mail kepada Miss Desy. Isi e-mail itu dapat dirasakan bagaimana perasaan Diaz yang bingung dan bertanya-tanya. Bagaimana perasaan marahnya terhadap Miss Desy, karena guru itu tak memberi kabar akan kepergiannya. Namun, dalam lubuk hatinya, Diaz merasakan begitu kehilangan guru Bahasa Inggrisnya itu.  Miss, kenapa Miss Desy nggak kasi tau kalo miss bakal ninggalin kita? Kenapa Miss Desy justru mengagetkan kita dengan seseorang yang tiba-tiba datang dan menggantikan posisi Miss ? Sebenarnya Diaz marah karena Miss ninggalin kita tanpa pamitan sama kita. Tapi, sejujurnya, Diaz dan teman-teman begitu syok melihat seseorang menggantikan Miss Desy, dan Miss Desy Kamipun merindukan Miss Desy. Kami sangat merindukan Miss Desy.. Miss, skrg kite bnr2 tau, stelah Miss Desy pergi, kita bru ngrasa, Miss Desy uda sngat kita syang., sampe pas kita tahu Miss Desy nggok ngajar, dan uda nggak di Bontang lagl, kekecewaan kita smua hari ini d skalh bner2 uda kliatan skali.. dri situ, kita tahu, bhwa memang kita syang bnget sma Miss Desy. Miss Desy emang sring kita bkin mrah, tp bgitulah cara2 kita, agar bljr lbih asyik. Tp, Miss Desy, mngerti itu smua.. Miss Desy bnar2 sabar. Kami hanya ingin berkata satu hal pada Miss Desy, TERIMAKASIH.

Setelah itu, Diaz meng-klik tombol send, pesan itu segera terkirim. Diaz tak peduli wajahnya telah berlinangan air mata. Baginya, buat apa menutupi kesedihan yang ada jika ia benar-benar sedih dan merasa kehilangan. Diaz menghembuskan nafas panjang. Duduk diam meratapi layar komputernya.Hari-hari berlalu. Pelajaran Bahasa Inggris tetap Miss Rina yang mengajar. Bagi anak­anak 8G itu hanyalah sebuah mimpi buruk. Namun, kenyataan sebenarnya justru membuat anak-anak kelas'gila' tersebut kecewa. Miss Desy tak pernah kembali hingga PBM di SMP YPK telah berjalan 2 bulan. Guru baru itu tak bisa bersikap friendly. Berbeda jauh dengan cara Miss Desy. Kekurangan itu semua membuat siswa 8G menjadi acuh dengan sang guru dan juga pelajarannya. Hingga suatu hari, salah satu cowok yang paling ribut di 8G berkomentar dengan sangat berani, ketika sang guru sedang menjelaskan materi, "Miss, nggak ngerti. Cara ngajarin Miss Rina beda kayak Miss Desy. Kita jadi 'rada nggak nyambung sama materi yang di jelasin Miss Rina," keluh Rika. Kontan! Setelah Rika berbicara seperti itu, Miss Rina diam dari penjelasannya tadi. la menatap pintu kelas dengan diam. Tak lama, tangannya bergerak. Menyeka setitik air di pipinya. Miss Rina menangis. Hanya Diaz clan satu-dua orang saja yang menyadari kejadian itu. Tak lama Miss Rina berjalan meninggalkan kelas. Masih tetap menyeka air matanya. Anak-anak di kelas itu hanya bisa diam, termasuk Diaz. Mereka diam. Tak tahu apa yang harus dilakukakan. Semua diam. Tak ada yang berhambur keluar kelas seperti biasa. 20 menit kemudian, bel istirahat berbunyi. Barulah semua berlarian keluar kelas. Rasanya semua telah melupakan yang barusan terjadi. Terkecuali Diaz clan beberapa temannya yang masih saja diam, clan saling mengangkat bahu, ketika saling bertatapan. Seakan mereka bisa membaca pikiran yang ada.Sepulang dari sekolah, siang itu juga Diaz segera memeriksa e-mailnya. Dengan masih mengenakan seragam putih-birunya, wajahnya yang tadi terlihat lesu, kini terlihat sebuah senyuman menghiasi wajahnya. Bisa ditebak, Miss Desy telah membalas e-mailnya. Diaz menggerakkan bola matanya. Tak tahu, mengapa tiba-tiba dadanya terlihat sesak dan ternyata ia menangis.

... Halo Diaz. dan anak2 86 lainnya..! Miss Desy benar2 merindukan kalian semua.. Miss Desy minta maaf kalo Miss Desy gk pamit langsung ma kalian. Sebenarnyo, keputusan ini sudah ada sebelum kalian ujian semester dlu. Tapi, Miss Desy gk mau bilang karena Miss gk mau konsentrasi kalian untuk belajar jadi buyar gara2 kabar Miss Desy mau pergi.Selma ujian dan class meeting, Miss Desy selalu ngeliat kalian dari jauh.. Miss Desy amati tingkah laku kalian, karena Miss Desy sadar, itulah saat2 terakhir ketemu kalian.. Jujur, Miss Desy merasa sedih krna harus pisah sma kalian. Tadi, sejak itu Miss Desy putuskan bahwa Miss Desy gk bisa pamitan langsung dengan kalian ketika di kelas. Karena sebenarnya, pasti Miss Desy nangis  malu kan? Hehehe...Miss hanya bisa berdoa semoga pertemuan kita selama setahun banyak bermanfaat buat kalian semua. Miss Desy sadar bahwa setiap pertemuan harus disertai perpisahan. Tapi, Miss Desy gk menganggap ini sebuah perpisahan. Miss yakin, suatu saat nanti kita pasti ketemu lagi.Ucapan terimakasih kalian sudah tersampaikan, dengan kaliangk malas belajar Miss Desy yakin kalian bisa. Yang rajin ya, belajarnya! Terutama bhs Ingg-nya. Biar nanti kita bisa e-mail2an pake bhs. Ingg.Oya, guru barunya dinikmati aja dulu. Mungkin karena pertama kali ngajar, jadinya kalian blm merasa nyaman. Lama kelamaan juga nanti terbiasa. Anggaplah itu sebagai tantangan. Jangan sampai hanya gara2 gurunya gk nyaman, kalian belajarnya jdgk ikhlas.  Pokoknya bhs Inggris Diaz dan anak2 86 lainnya harus lebih bagus lagi. OKe!Diaz, salam buat semua  anak2 8Gg ya. Sampaikan permintaan maaf Miss Desy.I miss you guys a lot.. But, I'm sure. We will meet again.. Someday in the future.You take care... Wassalam..  

Diaz tak sanggup lagi untuk bertahan agar tak menangis. la membantingkan badannya ke tempat tidurnya. Mama Diaz hanya bisa melihat anak sulungnya itu begitu sedih, dari celah pintu yang terbuka. Mungkin karena Diaz terlalu lelah sekolah dan menangis, cewek itu akhirnya tertidur pulas di suasana siang yang mendung. Diaz tak sadar, itu adalah awal clan akhir Miss Desy membalas e-mailnya.

Esok harinya, jadwal pelajaran Bahasa Inggris kelas 8G adalah setelah istirahat pertama. Anak-anak 8G tetap tak peduli. Hingga pada saat sang guru memasuki kelas, wajah Miss Rina datar. la hanya duduk diam di mejanya. Anak-anak 8G bingung melihatnya. Miss Rina tiba-tiba menarik napas panjang. "Anak-anak. Lanjutkan tugas kalian yang kemarin," ucap Miss Rina. Setelah itu dia diam, clan tak lama berlalu meninggalkan kelas itu. Diaz clan teman-temannya heran. Dalam hati Diaz bertanya, "Apa Miss Rina marah gara-gara masalah kemarin?" Pelajaran Bahasa Inggris berlalu hingga menyisakan waktu 30 menit sebelum istirahat kedua. Miss Rina muncul dari pintu clan memasukinya. Tak lama ia sampai di mejanya. la tetap berdiri di samping tempat duduknya. "Saya tahu, kalian tidak bisa menerima kehadiran Saya sebagai guru baru kalian, sebagai pengganti guru kalian yang lama. Namun, Saya terus mencoba agar bisa merubah suasana belajar kita selama ini yang penuh berontak ini-itu. Penuh dengan ungkapan perbandingan antara Saya clan Miss Desy. Penuh dengan kekecewaan kalian akan kekurangan Saya yang tak bisa mengajar layaknya Miss Desy. Tapi,..." Miss Rina tiba-tiba terdiam. la menitikkan air mata. Ia segera menyapu wajahnya. Diaz merasa merinding mendengar suara guru itu bergetar. "Tapi, Saya sendiri tidak diberi kesempatan untuk mengenal Miss Desy sebelum ia akhirnya pergi. Karena jika Saya diberi kesempatan untuk mengenalnya, Saya akan langsung bertanya, bagaimana mendapatkan perhatian kalian dengan kasih sayang seorang guru? Hanya itu yang ingin Saya tanyakan. Dan sesungguhnya, Saya sendiri bangga dengan guru kalian itu, karena dia merupakan guru yang berhasil mengambil rasa sayang kalian semua. Saya hanya bisa minta maaf karena Saya tak bisa seperti Miss Desy. Namun, Saya akan mencoba bersikap layaknya Miss Desy. Good Afternoon, guys !" Miss Rina meninggalkan kelas itu 15 menit sebelum istirahat, dengan memberikan seulas senyum yang terlihat begitu tulus sebagai penutup dari kalimat yang ia utarakan. Anak-anak dalam kelas itu hanya bisa diam membisu.  

Hari-hari berikutnya dijalani sedikit berbeda pada saat pelajaran Miss Rina. Tak heran, mereka semua pasti telah menyadari apa sebenarnya yang salah. Dan, kesalahan itu bukan terletak pada sang guru. Namun, pada diri mereka semua. Mereka terlalu egois clan belum bisa berpisah dengan kenangan sang guru yang luar biasa. Dan kini anak-anak itu telah sadar.

***  

Tak terasa, malam itu jam dinding di kamar Diaz sudah menunjukkan pukul 23:58. Diaz mulai tersenyum sendiri ketika dia menyadari akhir cerita dari kenangannya itu. Tak lama Diaz bergumam, "Hhh, andai saja Miss Rina nggak sayang sama kita, dia bisa saja nggak meloloskan nilai pelajaran Bahasa Inggris satu kelas 8G. Tapi, dia justru memberikan nilai terbaik. Padahal, perasaaannya pernah kita sakiti," Diaz terdiam sejenak. "Sekarang aku ingin bertemu dia untuk mengucapkan terima kasih dan mohon maaf. Tanpa kebijakan dirinya, mungkin aku nggak bisa seperti sekarang," Diaz terdiam dan akhirnya memejamkan matanya. Dalam diam, Diaz bergumam di dalam hati, "Miss Desy benar. Ini semua adalah sebuah tantangan. Tantangan yang akhirnya memberikan sebuah cerita dan pelajaran. Aku sangat merindukanmu, Miss.. hhhhh..." Diaz terdiam. Seiring dengan detik jam dinding yang bergerak, kesadaran Diaz hilang. la tertidur dalam kesejukan malam yang disinari bulan purnama.  

S-E-L-E-S-A-I

Putri Adhitya N. 9H  

(Juara 1 lomba ”Untukmu Guruku”  kategori siswa SMP dalam rangka Hari Guru yang diselenggarakan Yayasan Pupuk Kaltim November 2009)   

 

 
Yayasan Pupuk Kaltim © 2009 Jl. Dahlia PC VI PT.Pupuk Kalimantan Timur Bontang,Kalimantan Timur, 75313 Indonesia Telephone: +6254823211 Fax: +6254823211
Powered by Joomla