Pendidikan
Live Changing Experience PDF Print E-mail
Artikel - Pendidikan
There are no translations available.

Live Changing Experience

(Pengalaman yang Merubah Hidup)

 

Berawal dari mengikuti seleksi pertukaran pelajar atau American Field Service (AFS) di Samarinda ketika kelas X sekitar Maret 2010 lalu, akhirnya saya bisa berangkat saat saya duduk di kelas XII ini. Saya berhasil terpilih setelah bersaing dengan 10.000 siswa dari seluruh chapter se-Indonesia melalui 3 tahap seleksi chapter, 1 tahap seleksi berkas di tingkat nasional dan seleksi-seleksi additional lainnya. Akhirnya 56 siswa dan 5 guru berangkat mengikuti Jenesys Short Programme ke Jepang selama 2 minggu yaitu dari tangal 5 hingga 18 Desember 2011 dengan beasiswa penuh dari pemerintah Jepang. Selain saya, dari SMA YPK Bontang pada tahun 2011-2012 ada 2 siswi yang mengikuti program student exchange (AFS) yaitu Ribka Sonia Cindy Ginting  ke Jerman dan Shinta Chiptaningrum  ke Belanda selama 1 tahun, dan saya sendiri Firda Arifatul Faqiha mendapat program Jenesys Short ke Jepang

 

Sebelum berangkat ada sesi orientasi dari chapter di Samarinda selama 3 hari, orientasi nasional di Jakarta 4 hari dan farewell party. Di Jepang kami akan berkumpul dengan teman-teman dari 10 negara ASEAN, Australia, New Zealand, dan India. Jadwal kamipun diatur satu minggu tour (Nara-Kyoto-Hiroshima-Tokyo) dan satu minggu homestay (di kota Shiga).

 

 Perjalanan dari Bandara Sukarno Hatta ke Kansai International Airport di Osaka membutuhkan waktu selama 8 jam, kami disambut oleh udara yang dingin karena di sana memang sedang musim salju. Tugas utama kami sebagai duta bangsa Indonesia selama di Jepang tidak hanya jalan-jalan, tetapi juga memperkenalkan budaya Indonesia dan menyerap berbagai budaya, baik dari negara Jepang maupun negara-negara lain. Membuka pikiran dan saling mengenal negara satu sama lain khususnya negara Jepang. Selain itu kami juga bisa melihat Indonesia dari sudut pandang yang berbeda dan itu membuat kami lebih mencintai Indonesia.

 

 Ketika tour kami mengunjungi berbagai tempat bersejarah dan tempat wisata seperti Kinkakuji Tample, Todaji Tample, Kasuga Grand Shrine, Hiroshima Peace Memorial Park, Hiroshima Castle, Edo-Tokyo Museum, Tokyo Boat Tour, dan National Museum of Emerging Science and Innovation. Kami juga mencicipi berbagai jenis kuliner Jepang yang enak-enak, mengenal sejarah, memperoleh banyak informasi, memperbanyak teman dan menikmati setiap detail keindahan di Jepang. Subhanallah sekalilah.

 

 Saya mendapatkan hostfamily di Shiga dan double placement dengan siswa dari Myanmar yang semuanya sangat baik dan ramah. Selama homestay, saya banyak mengenal budaya Jepang, gaya hidupnya, dan cara pandang mereka yang menurut saya semuanya sangat luar biasa. Saya juga sekolah selama 2 hari di Omi Brotherhood High School. Mengenal sistem pendidikan di sana, proses belajar mengajarnya, dan murid-murid di sana. Welcoming party di daerah saya diisi dengan upacara teh khas Jepang dan makan malam dengan seluruh AFS Jenesys beserta hostfamily di sebuah restaurant. Saya juga belajar memainkan alat musik tradisional Jepang yaitu shamisen. Ketika hari Minggu saya bersama teman-teman sechapter pergi ke Universal Studio Japan di Osaka. Di hari terakhir homestay, kami tour keliling kota Omihachiman menggunakan perahu dan mengunjungi museum seni pahatan dari genteng. Hari terakhir program ini ada Jenesys Festival yang sangat seru. Tiap negara memakai pakaian adat masing-masing. Orang-orang sangat terkesan dengan pakaian adat Indonesia yang beragam dan sangat unik. 2011 adalah tahun terakhir program Jenesys, oleh karena itu kami semua merekam theme song Jenesys yang berjudul “Closer To You”. Di sini kami sangat merasakan makna kekeluargaan yang sesungguhnya. Setelah itu besoknya kami kembali ke negara masing-masing.

 

 Program ini bagiku “Live Changing Experience” yang artinya pengalaman yang mengubah hidup. Kenapa? Karena ini pengalaman sekali seumur hidup yang tidak bisa terulang. Program ini juga sangat membuka pikiranku tentang luar negeri khususnya Jepang. Banyak pelajaran dan pengalaman berharga saya dapatkan yang tidak bisa didapatkan di sekolah. Semua ini membuat saya mempunyai dorongan untuk mengubah diri saya menjadi lebih baik mulai dari hal-hal kecil yang sepele, semoga lama-lama menjadi efek yang besar. Yang tidak kalah pentingnya adalah saya punya keluarga di Jepang, saya punya banyak teman dari berbagai negara dengan latar belakang budaya, gaya hidup, cara pandang yang sangat berbeda. I made friends and I will never forget. Tidak peduli dari negara mana, cantik atau jelek, hitam atau putih, nyambung atau tidak, we made connections. We believe through connections we reach understanding. Through connections we can do anything. Friendship is the best way to achieve peace.

 

                                                                                          Firda Arifatul Faqiha

                                                                                          SMA YPK, XII IPA 3

 

 
Mengukur Kompetensi Guru Bahasa Indonesia dengan UKBI PDF Print E-mail
Artikel - Pendidikan
There are no translations available.

Mengukur Kompetensi Guru Bahasa Indonesia dengan UKBI

                Jika Anda diberikan sebuah pertanyaan, tahukah Anda apakah TOEFL itu? Saya yakin sebagian besar akan menjawab tahu. TOEFL adalah bentuk tes kompetensi kemampuan berbahasa Inggris seseorang. Sedangkan jika ditanyakan apakah Anda tahu tentang UKBI? Sebagian besar akan menjawab, Apa? UKBI? Fenomena ini sangat memprihatinkan. Hal ini dapat saja terjadi karena memang informasi tentang UKBI belum terlalu meluas bagi masyarakat Indonesia, terutama kalangan intelektual atau di dalam dunia pendidikan.

Apakah UKBI?

                Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI) dirintis melalui berbagai peristiwa kebahasaan yang diprakarsai Pusat Bahasa, Depdiknas. Melalui Surat Keputusan Mendiknas Nomor 152/U/2003 tanggal 28 Oktober 2003, Menteri Pendidikan Nasional telah mengukuhkan UKBI sebagai sarana untuk menentukan kemahiran berbahasa Indonesia di kalangan masyarakat. Selain itu, UKBI telah memperoleh Surat Pendaftaran Ciptaan Nomor 023993 dan 023994 dari Departemen Kehakiman dan Hak Azasi Manusia pada tanggal 8 Januari 2004.

Gagasan awal terungkap dalam Kongres Bahasa Indonesia IV pada tahun 1983. Selanjutnya, dalam Kongres Bahasa Indonesia V pada tahun 1988 muncul pula gagasan tentang perlunya sarana tes bahasa Indonesia yang standar. Oleh karena itu, Pusat Bahasa mulai menyusun dan membakukan sebuah instrumen evaluasi bahasa Indonesia. Pada awal tahun 1990-an, instrumen evaluasi itu diwujudkan, kemudian dinamai dengan Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI).
             Sejak saat itu UKBI dikembangkan untuk menjadi tes standar yang dirancang guna mengevaluasi kemahiran seseorang dalam berbahasa Indonesia, baik tulis maupun lisan. Dengan UKBI seseorang dapat mengetahui mutu kemahirannya dalam berbahasa Indonesia tanpa mempertimbangkan di mana dan berapa lama ia telah belajar bahasa Indonesia. Sebagai tes bahasa untuk umum, UKBI terbuka bagi setiap penutur bahasa Indonesia, terutama yang berpendidikan, baik warga negara Indonesia maupun warga negara asing. Dengan UKBI, instansi pemerintah dan swasta dapat mengetahui mutu karyawan atau calon karyawannya dalam berbahasa Indonesia. Demikian pula, perguruan tinggi dapat memanfaatkan UKBI dalam seleksi penerimaan mahasiswa.
            UKBI termasuk jenis tes kemahiran (proficiency test) untuk tujuan umum (general purposes). Sebagai sebuah tes kemahiran, UKBI mengacu pada situasi penggunaan bahasa pada masa yang akan datang yang akan dihadapi oleh peserta uji. Dalam pengembangan UKBI, ancangan tes yang diterapkan adalah pengukuran beracuan kriteria (criterion-referenced measurement). Kriteria yang diacu oleh UKBI berupa penggunaan bahasa Indonesia dalam kehidupan nyata penutur bahasa Indonesia. Penggunaan bahasa dalam kehidupan nyata tersebut dikelompokkan ke dalam beberapa ranah komunikasi yang merujuk pada ranah kecakapan hidup umum, yaitu ranah kesintasan dan ranah kemasyarakatan serta ranah kecakapan hidup khusus, yaitu ranah keprofesian dan ranah keilmiahan.

           Materi soal UKBI diejawantahkan dari materi-materi penggunaan bahasa Indonesia lisan dan tulis dalam ranah-ranah komunikasi tersebut. Dalam penggunaan bahasa Indonesia lisan, UKBI mengukur keterampilan reseptif peserta uji dalam kegiatan mendengarkan dan mengukur keterampilan produktif peserta uji dalam kegiatan berbicara. Dalam penggunaan bahasa Indonesia tulis, UKBI mengukur keterampilan reseptif peserta uji dalam kegiatan membaca dan mengukur keterampilan produktif peserta uji dalam kegiatan menulis. Selain menekankan pengukuran terhadap empat keterampilan berbahasa tersebut, UKBI juga mengukur pengetahuan peserta uji dalam penerapan kaidah bahasa Indonesia.

 (sumber: http://ukbi.pusatbahasa.diknas.go.id/web/lang/)

 

 

 

 

 

Kemampuan Bahasa Indonesia Siswa dan Guru

                 

Penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar dari tahun ke tahun mengalami degradasi. Degradasi penggunaan bahasa Indonesia tidak hanya dilihat dari rendahnya siswa dan guru dalam melakukan interaksi proses pembelajaran di kelas, melainkan juga rendahnya hasil ujian nasional (UN) bahasa Indonesia bagi siswa dan uji kemahiran bahasa Indonesia (UKBI) bagi guru.

Kenyataan yang ironik itu diungkapkan Rektor Universitas Muhammadyah Prof Dr Hamka (Uhamka), Suyatno, ketika menyampaikan orasi ilmiah saat ia dikukuhkan sebagai guru besar bidang ilmu pendidikan bahasa, Kamis (20/8) di kampus Uhamka, Jakarta. Selain Suyatno, dua dosen lain yang dikukuhkan sebagai guru besar adalah Abdul Mad jid Latief bidang Ilmu Administrasi Pendidikan dan Sylviana Murni bidang manajemen pendidikan.

Dalam orasi berjudul Bahasa Indonesia sebagai Sarana Pengembangan Guru Profesional , Suyatno menampilkan data terkini. Data laporan hasil ujian nasional SMP negeri dan swasta tahun 2008/2009 secara nasional , dari 3.441.815 orang peserta UN, peserta yang rentang nilainya 7,00 sampai 7,99 hanya 32,86 persen atau 1.131.121 peserta. Yang memperoleh nilai 10 hanya 0,02 persen (834 orang).

Sedangkan di tingkat SMA/MA hasil UN tahun 2008/2008, yang rentang nilainya 7,00 7, 99 adalah 40,6 persen atau 252.460 (jurusan IPA), 28,2 persen atau 240.815 (jurusan IPS), dan 30,7 persen atau 13.445 (jurusan bahasa). Yang meraih nilai 10 di jurusan IPA dan IPS tidak ada, sedangkan di jurusan bahasa ada 6 orang dari 43.688 peserta ujian. Untuk nilai bahasa Indonesia 0,01 sampai 5,99 cukup signifikan besarnya, yaitu 17,26 persen untuk jurusan IPA, 32,53 persen IPS dan 23,2 persen untuk jurusan bahasa.

Tidak hanya kemampuan berbahasa Indonesia anak didik yang rendah. Kemampuan bahasa Indonesia para guru juga rendah. Dari uji kemahiran bahasa Indonesia oleh Pusat Bahasa Depdiknas tahun 2008, dari 100 sampel hasil tes UKBI guru, hanya 9 orang dalam peringkat unggul, 49 madya, 41 semenjana, dan 1 marginal. Tidak ada predikat istimewa (816-900) dan sangat unggul (717-815).  

Menurut Suyatno, rendahnya kemampuan berbahasa Indonesia atau pendidikan bahasa akan sangat berdampak pada rendahnya kemampuan membaca dan kemampuan menulis. "Sangat jarang ditemukan siswa atau pun guru yang memiliki karya tulis yang berbobot dan memiliki nilai ilmiah dengan kualitas bahasa Indonesia yang tinggi," katanya. Menurut pandangan Suyatno, guru-guru sekarang dan akan datang seharusnya berada pada minimal tingkatan madya (skor 465-592) agar dapat berdampak pada pembelajaran bahasa Indonesia yang menyenangkan dan mampu meningkatkan nilai UN bahasa Indonesia yang akan datang, sekaligus mengefektifkan proses pembelajaran yang ada.
(sumber: edukasi.kompas.com)

 

Pentingnya UKBI

 Berdasarkan penjelasan di atas maka tak dapat disangkal lagi bahwa UKBI sangat perlu dan penting untuk dijadikan syarat. Hal ini karena UKBI mengukur kompetensi berbahasa Indonesia seseorang secara lengkap dan terukur. Sudah selayaknya jika guru bahasa Indonesia wajib mengikuti UKBI. Bagi lembaga pendidikan jika akan merekrut guru Bahasa Indonesia maka harus mempertanyakan skor kemahiran berbahasa Indonesianya atau sertifikat UKBI wajib dimiliki. Bukan hanya wajib bagi guru Bahasa Indonesia tetapi juga guru-guru mata pelajaran lainnya, tentunya standar skor yang diwajibkan berbeda. Demikian pula bagi instansi pemerintah yang akan merekrut tenaga PNS maka UKBI harus menjadi salah satu syaratnya. Tidak menutup kemungkinan bagi instansi swasta juga mewajibkan karyawannya mengikuti UKBI.  

JIka kita kembali kepada sejarah, pada tanggal 28 Oktober 1928 Sumpah Pemuda diikrarkan dengan tekad satu bangsa, satu tanah air, dan menjunjung bahasa persatuan Bahasa Indonesia. Jika bukan kita yang bangga dengan kemampuan berbahasa kita siapa lagi? Jika siswa atau guru dapat membanggakan skor TOEFL mereka, mengapa skor UKBI tidak? Apalagi kenyataan sekarang menunjukkan bahwa remaja Indonesia sudah tak mampu lagi berbahasa Indonesia dengan baik dan benar. Taufik Ismail mengatakan siswa Indonesia telah rabun membaca dan pincang menulis, tetapi jalang manakala menonton televisi. Lihat saja bagaimana bahasa yang mereka gunakan jika ber-SMS dengan temannya. Demikian pula gaya bahasa pada media maya dan situs jejaring sosial FB atau sejenisnya, maka bahasa yang digunakan oleh penggunanya hanya dimengerti oleh remaja jaman sekarang saja. Jika Debby Sahertian pernah mengeluarkan kamus bahasa gaul, maka kini merebaknya “Bahasa Alay” semakin meresahkan.

Jika TOEFL menjadi syarat mengapa UBKI tidak? P4TK Bahasa Jakarta mengeluarkan data bahwa kompetensi guru bahasa Indonesia melalui UKBI sangat memperihatinkan. Jika kompetensi guru bahasa Indonesia seperti itu maka bagiamana mungkin kompetensi berbahasa Indonesia siswa menjadi baik? Lalu bagaimana nilai kelulusan UN mata pelajaran Bahasa Indonesianya? Pertanyaan-pertanyaan lain yang menjadi efek domino akan terus bermunculan. Penyebabnya mungkin sekali bahwa kompetensi guru, khususnya kompetensi guru Bahasa Indonesia di Republik ini belum terukur secara valid dan realibel. Sehingga UKBI tak dapat ditunda lagi untuk dijadikan persyaratan.

Sayangnya lembaga yang mempunyai hak paten UKBI yaitu Pusat Bahasa belum melakukan sosialisasi yang gencar tentang UKBI ini. Pusat Bahasa hanya memenuhi “pesanan” lembaga yang ingin melaksanakan UKBI. Hanya lembaga-lembaga tertentu saja yang memanfaatkan UKBI ini. Salah satu lembaga yang sering memanfaatkan UKBI ini adalah lembaga P4TK Bahasa Jakarta. Lembaga ini akan melaksanakan UKBI bagi Bapak Ibu guru yang melakukan Diklat di lembaga ini secara gratis, karena biaya ditanggung oleh P4TK Bahasa Jakarta.  Padahal biaya yang dibutuhkan untuk UKBI ini hanya Rp 150.000,00 saja per orang, lebih murah daripada tes TOEFL ‘kan?

                Jika guru di lingkungan Yayasan Pupuk Kaltim ini ditanyakan apakah pernah mengetahui apalagi mengikuti UKBI maka jawabannya hanya dapat dihitung dengan jari saja. Sebagai data pembanding di SMP Yayasan Pupuk Kaltim, hanya ada 2 guru Bahasa Indonesia yang pernah mengikuti UKBI. Itu pun dilakukan di Jakarta setelah mengikuti saat Diklat di P4TK Jakarta selama satu bulan pada tahun 2002. Sertifikat UKBI itu pun sudah kadaluarsa, karena selayaknya setiap 2 tahun sekali UKBI itu kembali harus dilakukan. Berarti kompetensi yang 2 orang itu pun masih harus di uji kembali. Melalui tulisan ini pihak manajemen Yayasan Pupuk Kaltim sudah selayaknya mencari tahu lebih banyak lagi tentang pentingnya UKBI. Sehingga di masa yang akan datang UKBI dapat menjadi tolok ukur kompetensi guru Bahasa Indonesia di Yayasan Pupuk Kaltim yang tercinta ini. * (Penulis: Retno Utami, S.Pd.  Guru SMP YPK, Maret 2011)*

                      

 

 

 

 

 

 
JS Saving Plan Anuitas PDF Print E-mail
Artikel - Pendidikan
There are no translations available.

JS Saving Plan Anuitas

 

Adalah pembayaran berkala bulanan kepada peserta atau Ahli Warisnya untuk menjamin kesinambungan penghasilan bagi pensiunan atau keluarganya melalui pengembangan investasi JS Saving Plan. Manfaat:

  1. Pembayaran Anuitas Hari Tua Peserta.
    Pembayaran Anuitas Hari Tua Peserta setiap bulan selama hidup atau sampai dengan dana anuitas habis, dimulai setelah premi Saving Plan Anuitas dilunasi.
  2. Pembayaran Anuitas Janda/Duda (Jika Dana Anuitas Tersedia)
    Pembayaran Anuitas Hari Tua Janda/Duda setiap bulan sebesar 100%/80% dari Anuitas Hari Tua Peserta selama hidup atau sampai menikah lagi, dimulai bulan berikutnya sampai dengan dana anuitas habis, sejak Peserta meninggal dunia.
  3. Pembayaran Anuitas Yatim – Piatu (Jika Dana Anuitas Tersedia)
    Pembayaran Anuitas Yatim - Piatu setiap bulan sebesar 100% dari Anuitas Janda/Duda sampai dengan usia 25 tahun atau bekerja atau menikah atau meninggal dunia sebelum usia 25 tahun sampai dengan dana anuitas habis, dimulai bulan berikutnya sejak Janda/Duda meninggal dunia atau menikah lagi.
  4. Besaran Anuitas
    Anuitas pensiun ditetapkan sebesar 7% dari Dana Anuitas awal tahun.
  5. Asuransi Kematian s.d. Usia 65 Tahun (Uang Asuransi Disesuaikan) Pembayaran Uang Asuransi Sekaligus apabila:
    1. Penerima Anuitas Hari Tua Peserta meninggal dunia,
    2. Penerima Manfaat Anuitas Hari Tua Janda/Duda meninggal dunia,
    3. Penerima Manfaat Anuitas Yatim Piatu meninggal dunia (sebelum gugur hak manfaat anuitas yatim piatu). ket : berlaku berurutan
  6. 6. Pengembalian Sisa Dana (Cash Refund) Pembayaran Sekaligus kepada ahliwaris sebesar Sisa Akumulasi Dana Anuitas, apabila Penerima Hak Anuitas terakhir gugur.

Pembiayaan JS Saving Plan Anuitas

<

Biaya-biaya yang dibebankan dalam program ini terdiri dari Biaya Administrasi dan Premi Asuransi Kematian, secara rinci dapat dijelaskan sebagai berikut :

  1. Biaya Administrasi Pendanaan Anuitas dikelala dengan pola JS Saving Plan, dengan biaya administarasi sebesar 1.75% per tahun dari anuitas pensiun.
  2. Asumsi Premi Asuransi Kematian,Setiap peserta dibebankan premi setahun sebesar
    1. Untuk Usia s.d. 55 Tahun sebesar 0,50% (Lima per seribu) dari Uang Asuransi
    2. Untuk Usia 56 s.d 59 Tahun sebesar 0,10% (Sepuluh per seribu) dari Uang Asuransi
    3. Untuk Usia 60 s.d. 65 Tahun sebesar 0,15% (Lima belas per seribu) dari Uang Asuransi

    Pembiayaan JS Saving Plan Anuitas

    Tingkat Suku Bunga,
    Tingkat Suku Bunga Saving Plan untuk Periode 01 Juli s.d. 30 September 2010 adalah:
    1. 50.000.000 s.d. 499.999.999…………………………………………….. 7,00%
    2. 500.000.000 s.d. 999.999.999 ………………………………………….. 7,50%
    3. 1.000.000.000 s.d. 2.499.999.999……………………………………… 7,75%
    4. 2.500.000.000 s.d. 4.999.999.999……………………………………… 8,00%
    5. 5.000.000.000 s.d. 9.999.999.999……………………………………… 8,25%
    6. 10.000.000.000 s.d. 19.999.999.999…………………………………. 8,50%
    7. 20.000.000.000 s.d. 29.999.999.999………………………………… 9,00%
    8. > 30.000.000.000………………………………………………………………. 9,50%
 
Menimbang Hasil UN SMP YPK 2010 PDF Print E-mail
Artikel - Pendidikan
There are no translations available.

MENIMBANG HASIL UN SMP YPK TAHUN 2010

Oleh: H. Saepudin Arsuki

Kepala SMP YPK Bontang

 

 

Dalam perspektif kegiatan pendidikan sebagai suatu produk, maka hasil Ujian Nasional (UN) yang sama-sama kita saksikan beberapa hari ini itulah gambaran umum tentang produk pendidikan kita. Pandangan masyarakat umum, sekolah-sekolah dengan tingkat rata-rata nilai UN yang tinggi dan disertai tingkat kelulusan yang sempurna diposisikan sebagai sekolah yang baik (unggul), sebaliknya sekolah-sekolah dengan tingkat rata-rata nilai UN di bawah standar dan disertai tingkat kelulusan yang rendah pula diposisikan sebagai sekolah belum baik.

 

Lalu bagaimana dengan hasil UN SMP YPK?  Kembali kepada perspektif hasil UN sebagai suatu produk pendidikan, penulis hanya ingin mengingatkan kembali bahwa untuk menimbang hasil pendidikan harus disertakan faktor input dan proses. Faktor input dan proses menjadi penting dibicarakan mengingat setiap sekolah pada kenyataannya berbeda.  Input yang dimaksudkan di sini sekurang-kurangnya siswa baru dengan segala potensinya, sementara yang dimaksudkan proses adalah segala macam perlakuan educative oleh guru kepada siswa atau secara sederhana sering disebut proses belajar mengajar (PBM) di kelas.  Dua faktor ini sangat diyakini memiliki kontribusi yang signifikan dalam menghantarkan hasil yang diharapkan.  Dengan alasan ini pula, adalah hal yang bisa dipahami jika sekolah-sekolah tertentu (Sekolah Negeri) melakukan seleksi masuk terhadap calon siswanya.  Jika faktor pertama sukses dilaksanakan, maka langkah selanjutnya adalah bagaimana PBM dilaksanakan dengan baik oleh guru.  PBM yang berkualitas tidak datang dengan sendirinya, melainkan melalui berbagai upaya pembaharuan yang sistematis dan terus menerus dari sekolah terhadap para guru.

 

Berikut adalah profile hasil UN SMP YPK Tahun 2010: peserta UN sebanyak 301 siswa, rata-rata nilai UN 30, 71 (7, 67), dengan tingkat kelulusan 95,68 %.  Nilai tertinggi individual 37, 80 atas nama Ananda Zati Dini Atsari.  Sementara nilai sempurna (10,00) sebagai berikut: Bahasa Inggris atas nama Ananda Elda Sulfiana;  Matematika atas nama Ananda Bagus Anugerah Yoga Pratomo, dan Ananda Zati Dini Atsari; IPA atas nama Ananda Aidir Rahman Bustami, dan Ananda Luqman Harun Arrosyid.  Nilai rata-rata kategori level A (> 7,50) sebanyak 180 siswa (60 %), nilai rata-rata kategori B (> 5,60 s.d 7,50) sebanyak 108 siswa (35 %), dan sisanya 5 % kelompok siswa yang masih harus mengulang.

 

Terkait dengan input,  seperti diketahui bersama bahwa sekolah-sekolah YPK termasuk SMP YPK tidak melakukan seleksi, semua calon siswa baru apapun kondisinya jika itu anak karyawan harus diterima.  Dengan tidak adanya seleksi itu berarti kemampuan para siswa sangat hetorogen.  Bisa dibayangkan 300 orang lebih siswa baru yang berbeda karakternya harus diproses dengan target out put (lulusan) kelak kurang lebih  sama.  Sungguh bukan pekerjaan ringan, tapi kami bersyukur dengan seraya mengucapkan Alhamdulillah kerja keras rekan-rekan guru telah membuahkan hasil yang cukup membanggakan, sekiranya dikomparasikan dengan sekolah-sekolah yang melakukan seleksi,  seperti sekolah-sekolah negeri di Bontang, Samarinda, Balikpapan dan di wilayah Kaltim lainnya.  Semua sekolah-sekolah negeri tersebut terdapat siswanya yang harus mengulang dengan jumlah yang kurang lebih sama.  Padahal kalau di lihat dari sisi seleksi siswa dan jumlah siswa jauh lebih ideal.  Sekolah perusahaan seperti Vidatra, dan YPPBS (Sangata) kondisinya kurang lebih sama.  Vidatra lebih sedikit jumlah yang harus mengulang karena jumlah siswanya sedikit, dari sisi prosentase sama; sementara YPPBS jauh lebih memprihatinkan karena yang harus mengulang 18, 50 %.  Tentang nilai sempurna (10,00) mengutip harian Tribun Kaltim tanggal 07 Mei 2010 dikatakan sebagai berikut: “nilai sempurna mata pelajaran Bahasa Inggris se Kaltim ada dua orang, salah satunya dari SMP YPK; Matematika ada 63 orang, dua diantaranya siswa SMP YPK; dan IPA ada 10 orang, dua diantaranya siswa SMP YPK.”

 

Kesimpulannya, mencermati data-data yang ada, kami hanya ingin menyampaikan pesan mari kita belajar obyektif dalam menilai atau menimbang hasil Ujian Nasional di sekolah-sekolah YPK, khususnya di SMP YPK.  Semoga bermanfaat.

 

 

 
Belajar Bersama Bu Tari PDF Print E-mail
Artikel - Pendidikan
There are no translations available.

Belajar Bersama Bu Tari

Oleh: Shafira Riana Putri (2E)          

 

         Pada hari Rabu, ada pelajaran matematika. Pada saat itu Bu Tari datang. Semua anak laki-laki sembunyi di bawah kolong meja. Saat Bu Tari masuk kelas, Bu Tari kaget, dikirain semua anak laki-laki tidak datang atau pergi. Ternyata ada yang ketahuan, jadinya anak laki-laki yang sembunyi jadi ketahuan deh. Pelajaran pun di mulai. Kami belajar pengurangan dan penambahan. Menurutku Bu Tari itu orangnya baik sekali dan dia penyayang muridnya. Aku sangat bangga terhadap Bu Tari. Bu Tari marahnya kadang-kadang saja.           

         Di tengah pelajaran, tiba-tiba Ferdi maju ke depan kelas sambil menyanyi dan menari. Semua anak-anak tertawa karena tingkah laku Ferdi sangat lucu. Tingkah laku Ferdi membuat Bu Tari tertawa juga. Kalau pelajaran, Bu Tari hanya memarahi anak-anak yang jalan-jalan  dan ribut di dalam kelas. Di kelasku itu ada yang suka jalan-jalan dan ribut, namanya Abiyu.          

         Sebenarnya aku pingin dari kelas satu sampai kelas enam yang ngajar Bu Tari karena Bu Tari orangnya baik dan penyayang. Waktu pun telah berlalu, sekarang waktunya pulang. Semua anak berdoa dan tak lupa berpamitan dengan Bu Tari.

 

(Juara 1 lomba Celoteh Anak tentang Gurunya  kategori siswa SD kls 1 dan 2 dalam rangka Hari Guru yang diselenggarakan Yayasan Pupuk Kaltim November 2009).
 
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 Next > End >>

Page 1 of 8
Yayasan Pupuk Kaltim © 2009 Jl. Dahlia PC VI PT.Pupuk Kalimantan Timur Bontang,Kalimantan Timur, 75313 Indonesia Telephone: +6254823211 Fax: +6254823211
Powered by Joomla